Category: Info Kuliner

  • Sejarah Munculnya Cabai di Tanah Air

    Sejarah Munculnya Cabai di Tanah Air

    Bicara soal kuliner Indonesia, rasanya kurang lengkap bila tak menyebut sambal. Dengan catatan lebih dari 300 jenis, baik versi matang maupun mentah, sambal sebagai salah satu identitas kuliner lokal Tanah Air. Tentu saja, kehadirannya tidak lepas dari eksistensi cabai.

    Kira-kira, bagaimana sih sejarah munculnya cabai hingga menjadi sambal favorit masyarakat Indonesia? Penasaran? Berikut JadiLaper telah menyiapkan penjelasannya di bawah ini, yuk simak!  

    Baca juga: 7 Jenis Sambal yang Wajib Penyuka Pedas Coba!

    Awal-mula kemunculan cabai

    Menurut sejarawan Wijaya, setidaknya ada dua versi asal mula rempah ini muncul di Indonesia. Dikutip dari buku Pasar di Jawa Masa Mataram Kuno Abad VII-XIV karya Titi Surti Nastiti, menyebut bahwa cabai sudah eksis di pasar Nusantara sejak abad ke-10.

    Selain cabai Jawa, ada pula andaliman (sejenis tanaman merica) Sumatera Utara yang cukup terkenal. Meski andaliman tersebut bukan dalam bentuk cabai, namun cita rasanya yang diberikan mirip.

    Sementara dalam konteks sejarah Barat, cabai baru dibawa ke Indonesia pada abad-16 oleh para pedagang portugis. Ketua Yayasan Negeri Rempah, Dewi Kumoratih Kushardjanto menjelaskan, dalam hal ini, tempat asal tumbuhnya cabai diyakini di wilayah Amerika Selatan, termasuk Bolivia dan Meksiko.

    “Tanaman cabai tumbuh di daerah yang dilintasi garis khatulistiwa,” ujarnya.

    Ilustrasi cabai

    Sebelumnya, Kumoratih menjelaskan, jahe, lada, dan cabai jawa adalah jenis rempah yang dipakai untuk memberi rasa pedas pada olahan kuliner Nusantara. Jawa Barat, Lampung, Sumatra Barat dan Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai wilayah penghasil cabai.

    Cabai jawa disebutnya berbeda dari cabai yang dikenal sekarang. Pasalnya, saat kolonialisme Eropa terjadi di Indonesia membawa banyak perubahan. Selain aspek sosial budaya, pengaruhnya juga lekat pada budi daya pangan.

    Ekspansi Eropa ke Nusantara ini juga dalam rangka akumulasi resources berupa komoditas pangan. Jadi, daerah koloni itu juga jadi perluasan lahan untuk budidaya berbagai komoditas yang menguntungkan.

    “Sama seperti ketika bibit rempah kita dibawa, kemudian dibudidayakan di Zanzibar atau Grenada,” imbuhnya.

    Sebab itu, tidak heran jika “cabai impor” ini kemudian populer. Pada dasarnya orang Nusantara juga sudah mengenal rasa pedas. Meskipun, pedasnya bersumber dari rempah yang berbeda.


    Itulah seputar informasi terkait dengan sejarah munculnya cabai di Indonesia. Hingga kini Indonesia memiliki ratusan jenis sambal yang khas dari berbagai daerah lho. Beberapa di antaranya yaitu sambal cabe ijo (Sumatra Barat), sambal matah (Bali), sambal dabu-dabu (Manado), dan sambal colo-colo (Maluku).

    Baca juga:10 Jenis Sambal Khas Indonesia yang Wajib Kamu Coba

  • Kisah Penjual Tokyo Sushi, Mantan Chef di Amerika

    Kisah Penjual Tokyo Sushi, Mantan Chef di Amerika

    Sudah belasan tahun bekerja di Amerika, chef ini memutuskan untuk pulang ke Tanah Air. Siapa sangka dirinya kini sukses berjualan sushi di Pasar lama Tangerang!

    Tak jarang orang memilih banting setir, setelah bertahun-tahun menjalani sebuah pekerjaan. Dengan mengandalkan keahliannya, tidak sedikit pula orang yang memilih untuk membuka usahanya sendiri.

    Kemampuan yang didapat dari pekerjaan sebelumnya menjadi landasan dasar keberhasilan beberapa pengusaha untuk merintis karirnya mulai dari nol. Tidak jarang juga dari mereka yang harus jatuh bangun, sebelum berhasil menjalankan bisnis yang sukses seperti sekarang ini.

    Baca juga: Cara Makan Sushi Ala Jepang Berdasarkan Jenisnya

    Kisah dibalik Tokyo Sushi

    Ternyata, kisah yang diceritakan di atas turut dialami oleh seorang penjual sushi di kawasan Pasar lama Tangerang. Setelah belasan tahun bekerja di Amerika Serikat, pria bernama lengkap Andy Kurniawan tersebut memilih untuk membuka usahanya sendiri.

    Sebelum membuka usaha Tokyo Sushi ini, Andy pernah bekerja selama 15 tahun di Amerika Serikat. Mulai dari tahun 1998 diri nya sudah hijrah ke negeri Paman Sam ini hingga akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 2013.

    Selama di Amerika Serikat dirinya pernah bekerja disebuah restoran Vietnam di kawasan Philadelphia bernama Pho Sin Hua selama 5 tahun. Usai berhenti dari restoran pertamanya, ia pindah ke sebuah restoran Jepang yang dikelola oleh seorang berkebangsaan Korea Selatan.

    Andy pun menghabiskan sisa waktunya di AS menjadi chef di restoran Jepang. Seiring berjalannya waktu, kemampuan pria berkebangsaan Indonesia ini untuk membuat masakan Jepang pun semakin meningkat.

    Di restoran tersebut, ia belajar banyak dari sosok pemilik restoran yang justru berasal dari Korea Selatan untuk menyajikan sushi. Hingga akhirnya ia memilih untuk membuka usahanya sendiri yang bernama Tokyo Sushi. Usaha Tokyo Sushi ini, ternyata tak lepas dari latar belakang profesional yang dimiliki Andy sebagai chef masakan khas Jepang. Sebab itu, dirinya telah handal menyajikan hidangan sushi dan makanan khas Jepang lainnya yang otentik.

    Berkonsep food truck

    Food truck milik Tokyo Sushi

    Berbeda dengan penjual lain yang ada di kawasan kuliner Pasar lama Tangerang, Andy Kurniawan justru memilih berjualan menggunakan mobil. Dengan memanfaatkan bagian belakang, ia menyulap mobil tersebut menjadi food truck.

    Konsep food truck ini membuat dirinya tak harus sibuk menyimpan atau mendorong-dorong gerobak. Setelah selesai berjualan, mobil bisa langsung dibawa pulang dengan peralatan yang sudah bersih dan rapi.

    Meski berkonsep food truck, Andy mampu menyajikan area makan yang cukup untuk menampung banyak pelanggan. Para pelanggan yang dating juga terlihat cukup nyaman menikmati sushi di sisi food truck

    Selain itu, adanya etalase yang tembus pandang membuat para pelanggan juga sedikit terhibur saat menyaksikan Andy membuat pesanan sushi. Mengandalkan keahliannya bekerja sekitar 8 tahun di sebuah restoran Jepang, Andy menghadirkan makanan khas Jepang berkelas restoran di pinggiran jalan Pasar lama Tangerang.

    Menggunakan bahan-bahan yang tidak sembarangan, harga makanan khas Jepang yang disajikan di sini dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau. Menargetkan pasarnya kepada anak muda kelas menengah kebawah, harga makanan disini dijual mulai dari Rp20 ribu saja.


    Nah, itu dia kisah dari seorang chef yang pernah bekerja di Amerika Serikat dan saat ini berjualan sushi di Pasar Lama Tangerang. Jika ingin menikmati sushi buatan chef tersebut, langsung saja datang ke daerah Pasar Lama Tangerang.

    Buka mulai pukul 6 sore sushi buatan chef tersebut biasanya sudah habis di serbu oleh pembeli jam 8 malam. Yuk, coba dan rasakan kelezatannya!

    Baca juga: Burgushi, Perpaduan Burger dan Sushi yang Sempat Viral !

  • Tak Selalu Coklat, Aneka Ragam Warna Teh dan Manfaatnya!

    Tak Selalu Coklat, Aneka Ragam Warna Teh dan Manfaatnya!

    Teh merupakan jenis minuman dari daun, pucuk, atau tangkai tanaman teh yang dikeringkan. Kemudian, diseduh hingga menghasilkan rasa dan aroma yang menenangkan. 

    Di Indonesia, umumnya teh disajikan di rumah-rumah makan maupun dijual di pasaran ini mayoritas berwarna coklat muda sampai tua saat diseduh. Akan tetapi, kini sudah ada beberapa jenis teh yang bisa menghasilkan warna selain coklat. Yuk, simak informasi selengkapnya berikut ini!

    Baca juga: Sejarah Teh, Daun Yang Tak Sengaja Ditemukan

    Teh hijau

    Pertama, ada teh hijau atau bisa disebut matcha. Teh hijau ini merupakan salah satu minuman teh yang digemari dan memiliki banyak variasi penyajian.

    Di samping itu, ternyata teh hijau ini memiliki manfaat yang bagus untuk kesehatan tubuh. Mulai dari mencegah kanker, menurunkan kadar kolesterol, mencegah penyumbatan pembuluh darah, hingga mengurangi risiko penyakit pada otak.

    Teh merah

    Ilustrasi teh merah

    Selain teh hijau, ada pula teh merah. Jenis ini termasuk ke dalam golongan teh herbal yang dihasilkan oleh bunga rosella yang dikeringkan. Sebab itu, teh yang satu ini memiliki cita rasa asam segar layaknya buah berry.

    Teh merah ini juga dikenal memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Bila mengonsumsi minuman ini, dapat membantu untuk menangkal radikal bebas. Selain itu, dapat menstabilkan tekanan darah, menjaga kesehatan hati, hingga menghancurkan lemak jahat.

    Varian warna hitam

    Teh hitam ini dihasilkan dari tanaman yang sama dengan teh hijau. Akan tetapi, proses pengeringannya berbeda dengan teh hijau. Selain itu, varian teh ini melalui proses oksidasi yang membuat warnanya menjadi hitam.

    Sementara itu, teh hitam ini memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Dengan mengonsumsi teh ini, kamu dapat mengontrol kadar gula darah. Selain itu, juga dapat mencegah kanker, menyehatkan otak, dan menjaga kesehatan jantung. 

    Akan tetapi, teh ini memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi dari teh lain. Sebab itu, tidak disarankan untuk mengonsumsinya secara berlebihan.

    Teh biru

    Ilustrasi teh biru

    Teh ini berasal dari bunga telang yang menghasilkan warna biru hingga keunguan yang nyentrik saat diseduh. Bahkan, minuman teh ini sempat viral dan disajikan sebagai menu di banyak restoran dan cafe.

    Teh biru ini juga dikenal memiliki banyak khasiat bagi tubuh. Mulai dari mengurangi stress dan kecemasan, detoks tubuh, membersihkan darah, hingga menghancurkan lemak jahat. Bahkan, minuman ini juga bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan.

    Varian warna merah muda

    Selain menjadi bunga yang melambangkan cinta, mawar juga dapat diseduh dan dijadikan teh yang kaya akan manfaat. Selain itu, seduhan bunga mawar menghasilkan warna merah muda. 

    Teh ini memiliki manfaat yang tak kalah dengan teh lainnya, yaitu dapat menjaga imunitas, mengurangi nyeri akibat haid. Selain itu, minuman ini juga dapat melancarkan pencernaan, mengandung antikanker, mengurangi stress, hingga dipercaya berkhasiat untuk kecantikan.


    Beberapa teh di atas dapat menjadi pilihan minuman untuk kamu yang bosan dengan teh biasa. Pastinya, varian teh di atas ini memiliki manfaat yang tak kalah dengan teh coklat.

    Baca juga: Manfaat Teh Chamomile Yang Jarang Diketahui

  • 8 Cita Rasa Kue Bulan, Ada Varian Boba Lho!

    8 Cita Rasa Kue Bulan, Ada Varian Boba Lho!

    Kue bulan adalah sajian spesial yang hanya diproduksi setahun sekali ketika menjelang festival mooncake pada musim gugur. Biasanya, kue bulan dikudap dengan paduan teh hangat. 

    Bentuk kue bulan yang bundar melambangkan kebersamaan dan kesempurnaan. Kudapan manis ini cocok juga untuk dijadikan bingkisan hadiah kepada keluarga dan teman.

    Sekarang ini, ada berbagai macam rasa kue bulan dari yang tradisional hingga modern. Berikut JadiLaper telah rangkum 8 cita rasa kue bulan yang rasanya menggoyang lidah. Yuk, simak!

    Baca juga: 3 Resep Kue Cranberry yang Wajib Dicoba!

    Kacang merah

    Kue bulan berisi kacang merah adalah rasa klasik yang disukai banyak orang. Kombinasi pasta kacang merah yang manis dan kulit luarnya gurih membuat kue bulan menjadi rasa yang lebih kaya. Hal tersebut membuat rasa kue bulan ini menjadi paling populer.

    Kue bulan teh hijau

    Bagi para green tea lovers, kamu tidak boleh ketinggalan dengan rasa yang satu ini. Rasa teh daun alami yang segar ini dapat mengimbangi rasa lemak pada kulit kue bulan. Berbeda dengan rasa yang lainnya, rasa green tea ini tidaklah terlalu manis dan tentunya memiliki efek kesehatan tertentu.

    Pasta biji teratai

    Varian ini berasal dari Kanton sehingga menjadi isi kue bulan yang paling mewah. Terbuat dari biji teratai segar dengan aroma alami menjadi paling banyak yang diperjualbelikan.

    Kue bulan varian coklat

    Siapa sih yang tidak suka dengan coklat? Apapun yang memiliki rasa coklat pasti dijamin enak dan disukai semua kalangan. Ternyata, kue bulan juga memiliki rasa coklat yang aromanya sangat menggoyang lidah. Apalagi isi coklatnya begitu kental, pastinya bakal meleleh di mulut.

    Durian

    Ilustrasi kue bulan varian durian

    Buah tropis dari asia tenggara ini biasanya banyak orang minat lho karena rasa daging dan baunya yang begitu tebal serta manis. Jadi, tak heran kalau banyak yang menjual kue bulan dengan rasa kearifan lokal satu ini.

    Kuning telur asin

    Sesuai dengan namanya, isi dari kue bulan jenis ini adalah salted egg yolk yang padat. Rasanya yang unik membuat kue bulan ini populer. Pasta biji teratai segar atau pasta kacang merah adalah kombinasi paling umum dengan kuning telur asin.

    Es krim

    Berbeda dari kue bulan panggang lainnya, varian ini disajikan dengan sensasi dingin. Untuk varian ini, kulit luarnya terbuat dari coklat. Lalu, diisi dengan beragam aneka rasa es krim. Sebab itu, tak sedikit anak muda yang gemar menyantap kue bulan satu ini.

    Kue bulan varian boba

    Ilustrasi kue bulan varian boba

    Terakhir, ada kue bulan yang terinspirasi dari boba. Casahana, salah satu bakery asal Malaysia yang memproduksi Boba Mooncake. Tampilan kue bulan ini juga didekorasi dengan gambar dua kelinci lucu meminum boba.

    Selain tampilannya bagus, kue bulan ini terbuat dari campuran pasta teh susu dan memiliki lava gula merah yang bakal keluar meleleh dengan hanya satu gigitan. Bahkan, ada mutiara asli yang dibuat dari mochi gula merah.


    Kue bulan ini pastinya cocok buat kamu santap sebagai kudapan di rumah lho! Dari 8 rekomendasi cita rasa kue bulan yang populer tadi, mana kesukaanmu?

    Baca juga: 4 Jenis Keju di Dunia yang Populer!

  • Bir Pletok, Minuman Bir Tradisional Betawi Tanpa Alkohol

    Bir Pletok, Minuman Bir Tradisional Betawi Tanpa Alkohol

    Apakah kamu pernah mendengar minuman bernama Bir Pletok? Beberapa dari kamu yang pernah mendengarnya, pasti sempat mengira minuman ini mengandung alkohol. Namun, ternyata bir yang satu ini tidak akan membuat kamu mabuk walaupun dikonsumsi dalam jumlah banyak.

    Bir Pletok merupakan minuman tradisional yang berasal dari Betawi. Minuman khas Betawi ini banyak digemari oleh banyak orang. Sebab, minuman ini disebut memiliki sejumlah khasiat bagi kesehatan tubuh. 

    Baca juga: Asinan Betawi, Kuliner Legendaris Khas Jakarta

    Asal-usul munculnya bir tradisional Betawi

    Menurut sejarahnya, bir pletok ditemukan pada zaman Belanda. Kala itu, orang-orang Belanda sangat menyukai minum bir usai bekerja untuk menghangatkan badan mereka. Orang Betawi yang melihat kebiasaan tersebut lama-kelamaan pun menjadi penasaran. Akan tetapi, mereka tidak ingin minum minuman keras tersebut karena dilarang oleh ajaran agama. Minum bir juga bukanlah adat asli Betawi. 

    Hingga akhirnya orang Betawi itu membuat sebuah minuman yang mirip seperti bir tapi tidak mengandung alkohol, yakni bir pletok. Dikutip dari laman Jakarta Tourism, nama “bir” diambil dari bahasa Arab, yakni birun atau abyar yang artinya sumber mata air. Sementara itu, kata “pletok” diambil dari cara pembuatan minuman ini yang mengeluarkan bunyi pletak-pletok.

    Racikan Bir Pletok

    Dengan adanya penemuan bir pletok ini, orang-orang Betawi berkreasi dalam membuat ramuan dari bahan-bahan alami. Dulu, mereka hanya menggunakan jahe, lada, dan kayu secang. Akan tetapi, sekarang resepnya telah diperbarui seperti ditambahkan sereh, daun jeruk, kayu manis, daun pandan, dan jahe.

    Semua bahan tersebut dimasukkan ke dalam bumbung (selongsong bambu) yang diisi es batu. Bumbung yang terkocok tersebut mengeluarkan bunyi pletak-pletok, kemudian diangkat menjadi bir pletok. Meski tak ada alkoholnya, tetapi bahan-bahan yang digunakan sama-sama dapat menghangatkan badan seperti bir.

    Simbol kuliner Betawi

    Selain menjadi tandingan bir orang Eropa, bir pletok juga berkembang menjadi salah satu simbol tradisi kuliner Betawi. Biasanya, minuman ini disajikan saat ada acara adat Betawi, seperti pernikahan atau acara khitanan. 

    Bukan hanya rasa hangat dan menyegarkan, minuman khas Betawi ini juga memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh. Sebab, rempah-rempah yang terdapat di dalam bir tersebut berdampak positif untuk tubuh. Selain itu, minuman khas Betawi ini juga masuk ke dalam Pengetahuan Tradisional di dalam sepuluh objek Pemajuan Kebudayaan berkategori kuliner tradisional.


    Itulah sejarah dan penjelasan tentang bir khas Betawi. Minuman bir halal yang tidak mengandung alkohol, pasti asyik banget ya! Jangan khawatir, minuman ini mudah kok ditemukan di daerah sekitar Kota Tua Jakarta. Selain itu, pasti banyak jajanan tradisional lainnya. Yuk, hunting kuliner tradisional Jakarta lainnya!

    Baca juga: Kota Tua Jakarta, Surga Kuliner Legendaris

  • Pentingnya Menghitung Asupan Kalori dalam Makanan

    Pentingnya Menghitung Asupan Kalori dalam Makanan

    Untuk memperoleh berat badan ideal, tidak hanya serta merta berolahraga secara rutin saja. Aktivitas fisik secara rutin perlu diimbangi dengan pola makan yang sehat dan teratur. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan saat menurunkan berat badan adalah perhitungan jumlah asupan kalori per harinya. Kira-kira, seberapa penting asupan kalori untuk tubuh manusia?

    Kalori dalam makanan ini ternyata berperan penting dalam membentuk energi bagi tubuh. Tubuh memerlukan kalori agar bisa berfungsi dengan baik. Namun, terlalu banyak atau terlalu sedikit kalori tentu berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh. 

    Tujuan utama menghitung jumlah kalori dalam makanan adalah meningkatkan kesadaran terhadap apa yang dikonsumsi, terutama ketika menjalani diet sehat. Namun, perlu diketahui terlebih dahulu seberapa banyak kebutuhan kalori harian tubuh masing-masing, sebelum menghitung jumlah kalori pada tiap porsi makanan setiap harinya.

    Baca juga: Simak! Bahaya di Balik Kenikmatan Kentang Goreng

    Cara menghitung

    Salah satu cara menghitung kalori makanan yang paling mudah, yakni membaca informasi nilai gizi pada kemasan makanan. Hampir setiap produsen makanan diharuskan menyertakan informasi nilai gizi pada produk kemasan.

    Sebagai contoh, label nilai gizi sebuah makanan biasanya memiliki berapa banyak kandungan kalori satu porsi di dalamnya. Untuk mencapai atau menjaga berat badan ideal, asupan jumlah kalori alangkah baiknya diseimbangkan dengan kalori yang akan dibakar.

    Jika hendak menghitung jumlah kalori makanan non-kemasan (yang tidak ada label nilai gizi), bisa menggunakan perhitungan. Untuk perhitungannya, sebagai berikut:

    • 1 gram protein = 4 kalori
    • 1 gram karbohidrat = 4 kalori
    • 1 gram lemak = 9 kalori

    Kemudian, ketiga hasil perhitungan tersebut dijumlahkan. Jika dirincikan perhitungannya, maka rumusnya sebagai berikut:

    • (Jumlah Protein x 4) = Jumlah Kalori
    • (Jumlah Karbohidrat x 4) = Jumlah Kalori
    • (Jumlah Lemak x 9) = Jumlah Kalori
      ketiga jumlah kalori kemudian dijumlahkan

    Pertimbangkan jumlah kalori dengan porsi makanan

    Ilustrasi memperhatikan asupan kalori

    Jumlah kalori yang sudah diketahui hanya menunjukkan satu porsi sebuah makanan. Bila ada beberapa porsi yang termasuk dalam makanan tersebut, jumlah kalori sebenarnya akan jauh lebih banyak.

    Itu sebabnya, kita perlu mengatur berapa banyak porsi makan yang sesuai dengan jumlah kebutuhan kalori harian. Sebagai contoh, makanan dengan 355 kalori per porsi akan menghasilkan 1.065 kalori, bila dalam kemasan tersebut terdapat 3 porsi.

    Setelah selesai menghitung jumlah kalori makanan, selalu buat perbandingan kalori tersebut dengan asupan yang dibutuhkan tubuh. Selalu jaga porsi dan asupan kalori yang masuk kedalam tubuh untuk memperoleh hasil maksimal, ketika sedang menjalankan program penurunan berat badan.


    Maka dari itu, kita perlu bijaksana dalam memilih makanan dan mempertimbangkan apa saja yang masuk kedalam perut kita. Dengan begitu, asupan nutrisi gizi dan kalori akan terjaga secara baik. Sebab itu, tubuh akan tetap sehat dan berat badan terjaga. Untuk hasil maksimal, kita juga jangan lupa rutin aktif berolahraga.

    Baca juga: Mau Tambah Massa Otot? Coba Konsumsi Makanan Ini!

  • Tak Hanya Manis, Oreo Ternyata Punya Berbagai Rasa Unik!

    Tak Hanya Manis, Oreo Ternyata Punya Berbagai Rasa Unik!

    Siapa yang tak kenal dengan makanan ringan yang satu ini? Slogannya yang ikonik membuat anak-anak hingga orang dewasa mengenalnya, itulah oreo. Biskuit hitam dengan krim vanilla di tengahnya.

    Kalau di Indonesia sendiri, jajanan yang cocok dinikmati bersama susu tersebut biasanya hadir dalam varian rasa vanilla, krim coklat, selai kacang, ataupun es krim blueberry. Namun, jenis-jenis oreo masih ada banyak, lho.

    Kali ini, JadiLaper akan membahas tentang lima varian rasa oreo yang unik dan luar biasa. Psst, ada yang rasa ayam pedas, lho.

    Baca juga: 13 Ide Mengolah Oreo yang Mudah Dan Lezat!

    Buttered Popcorn

    Ilustrasi varian unik oreo, Buttered Popcon Oreo

    Nonton film di bioskop belum afdol kalau gak beli popcorn. Rasanya yang asin-gurih terkadang bikin kalap sembari menyaksikan tayangan filmnya. Namun, berondong jagung ternyata juga bisa kamu temukan dalam biskuit oreo, lho. Pada tahun 2019, oreo merilis Buttered Popcorn Oreo sebagai varian limited edition.Tampilan dan rasanya lumayan beda. Cookies-nya berwarna kuning-keemasan ditambah dengan krim rasa popcorn. Pastinya, kombinasi yang bikin nagih!

    Watermelon Oreo

    Kalau sebelumnya terinspirasi dari berondong jagung, kali ini oreo berinovasi dengan buah nih, Sobat Laper. Lebih tepatnya, semangka yang segar digabungkan dengan biskuit yang manis.

    Di tahun 2013 lalu, hadirlah watermelon oreo sebagai varian limited edition untuk menyambut musim panas. Cookies yang digunakan berwarna golden. Tidak lupa juga dengan krim berwarna pink-hijau yang terasa segar di mulut. Kayaknya enak, ya?

    Oreo Punya Rasa Wasabi yang Unik

    Wasabi oreo merupakan rasa berikutnya. Ya, kamu gak salah dengar. Oreo yang satu ini memang menggunakan wasabi khas Jepang yang pedas.

    Varian tersebut dipasarkan secara terbatas di Tiongkok pada musim panas tahun 2018 silam. Rasa nyegrak dari wasabi dipadukan dengan biskuit coklat dan krim yang manis. Tentu saja, kamu akan merasakan sensasi unik di tiap gigitannya.

    Rasa Chicken Wings

    Gak cuma wasabi, jenis oreo lainnya yang bikin pangling adalah Chicken Wings Oreo. Sayangnya, varian yang dirilis bersamaan dengan wasabi oreo ini tidak mendapatkan predikat ‘enak’ dari para penggemar.

    Hal ini karena rasa pedas saus buffalo kurang klop dengan cookies coklat oreo yang manis. Meskipun begitu, produk edisi terbatas tersebut ternyata cukup berkesan bagi mereka yang membeli. Bahkan, banyak yang gagal move on dari sensasi pedasnya.

    Mystery Oreo

    Mystery Oreo salah satu varian oreo yang unik

    Last but not least, inilah Mystery Oreo. Disebut misteri karena tidak tercantum pada kemasan rasa dari isian krimnya. Malahan, kita diajak untuk menebaknya, Sobat Laper.

    Sejauh ini, kontes menebak rasa oreo ini baru dua kali diadakan, yakni pada tahun 2017 dan 2019. Varian rasa yang pernah dilombakan adalah fruity pebbles dan churro.

    Nah, kalau tebakanmu benar, maka kamu berhak mendapatkan hadiah sebesar 50 ribu dolar atau sekitar Rp710 juta. Kalau ada di Indonesia, wajib ikutan nih!


    Ternyata, varian oreo bisa terinspirasi dari apa saja. Mulai dari buah, jajanan, hingga ayam goreng yang pedas. Kalau misalnya ada oreo rasa ayam geprek, kamu bakal beli gak?

    Baca juga: Resep Camilan Oreo Goreng yang Mudah Kamu Buat

  • Getuk Lindri, Kue Olahan Singkong yang Berwarna-Warni

    Getuk Lindri, Kue Olahan Singkong yang Berwarna-Warni

    Halo Sobat Laper! Di sini ada yang suka dengan makanan berbahan baku singkong? Singkong dapat dibuat menjadi berbagai macam jenis makanan, mulai dari keripik, gorengan, higga kue. 

    Kali ini, JadiLaper ingin membahas salah satu jenis tradisional makanan olahan singkong, Kue Getuk Lindri. Meski kue getuk sendiri memiliki berbagai macam jenis, tetapi kita akan fokus membahas kue tradisional yang populer di Kota Jakarta ini.

    Tunggu apalagi, yuk langsung saja kita simak artikel berikut untuk mengulik tentang getuk lindri!

    Baca juga: 8 Jajanan Tradisional Indonesia Berbahan Kelapa

    Mengenal getuk lindri

    Getuk lindri merupakan makanan olahan singkong yang dikukus. Sebab itu, makanan yang satu ini memiliki tekstur yang kenyal dan lembut. Nama getuk lindri sendiri berasal dari cara pembuatannya. Lindri artinya nama proses menggiling adonan getuk. Setelah digiling, getuk akan keluar dengan bentuk berupa gulungan kecil yang menempel. 

    Menariknya, getuk lindri memiliki tampilan yang berwarna-warni. Biasanya, getuk jenis ini berwarna coklat, kuning, hijau, dan pink. Kue berwarna-warni ini terbuat dari singkong, gula pasir, vanili, dan pewarna makanan. Lalu, ditaburi kelapa parut ketika dihidangkan.

    Bukan hanya tampilan kuenya, tetapi para pedagang getuk lindri juga memiliki ciri khas pada gerobak mereka. Umumnya, mereka menggunakan gerobak berukuran kecil dan memiliki pengeras suara besar yang ditaruh di atasnya. Kemudian, mereka akan berkeliling sambil menyalakan lagu dengan lantang. Biasanya, lagu yang diputar tersebut adalah lagu dangdut.

    Cara membuat getuk lindri

    Ilustrasi getuk lindri

    Keberadaan getuk lindri saat ini sudah mulai jarang ditemukan. Meski begitu, JadiLaper telah menyiapkan resep untuk membuat getuk lindri dan kamu bisa membuatnya di rumah. Penasaran? Yuk, simak informasinya berikut ini!

    Bahan-bahan

    • 1 kg singkong kupas, cuci dan potong-potong
    • 150 gr kelapa parut
    • 100 gr gula pasir
    • Pewarna makanan
    • 1 sdt garam
    • Taburan kelapa parut

    Cara pembuatan

    1. Pertama, kamu panaskan terlebih dahulu kukusannya. Kemudian, kukus singkong bersama 150 gram kelapa parut selama 30 menit.
    2. Selanjutnya, angkat dan pindahkan singkong yang telah dikukus ke dalam wadah besar. Lalu, taburkan 1 sdt garam dan 100 gram gula pasir. Setelah itu, kamu aduk hingga semua bumbu merata.
    3. Kemudian, kamu siapkan alat penggiling singkong. Giling sedikit-sedikit hingga habis, lalu bagi menjadi beberapa bagian dan beri warna sesuai selera.
    4. Terakhir, kamu giling lagi adonan getuk lindri berbentuk panjang-panjang. Lalu, tata getuk lindri di atas piring dan taburi kelapa parut. Getuk lindri pun siap disantap bersama teh hangat. Selamat mencoba getuk lindri!


    Itulah beberapa informasi tentang getuk lindri, kue tradisional yang mulai sulit ditemukan. Gimana? Ingin merasakan kelezatan dari getuk lindri ini? Yuk, buat kreasi getuk lindri kamu sendiri!

    Baca juga: 3 Kue Indonesia Ini Menggunakan Gula Merah, Lho!

  • Sejarah Gudeg, Kuliner Khas Kota Yogyakarta!

    Sejarah Gudeg, Kuliner Khas Kota Yogyakarta!

    Bagi kamu yang pernah atau suka berpergian ke Yogyakarta, pasti sudah tidak asing dengan Gudeg, bukan? Gudeg sendiri merupakan makanan khas Yogyakarta yang populer dan disukai oleh segala kalangan.

    Namun, kamu sudah pernah dengar tentang sejarah makanan yang satu ini, belum? Dibalik rasanya yang nikmat, ternyata gudeg memiliki cerita dan sejarah yang menarik lho!

    Gimana? Kamu penasaran, bukan? Yuk, langsung saja telusuri artikel ini untuk mengetahui selengkapnya tentang sejarah gudeg kuliner khas Yogyakarta!

    Baca juga: Sejarah Teh, Daun Yang Tak Sengaja Ditemukan

    Jenis gudeg

    asal-usul-gudeg-yang-tercipta-dari-tangan-prajurit-mataram-kala-babat-alas

    Ilustrasi kuliner gudeg

    Ada dua jenis gudeg yang terbuat dari gori, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg biasanya disajikan bersama tahu, tempe, ayam, atau telur, yang dimasak dengan cara dibacem, dan tentunya dimakan dengan nasi putih. 

    Selain dari gori, gudeg juga bisa dibuat dengan putik bunga kelapa atau manggar, terkadang ditambahkan rebung alias bambu muda dan potongan daging. Gudeg manggar memiliki citarasa yang unik, teksturnya liat, dan tidak terlalu manis seperti gudeg nangka.

    Akibat langkanya bahan, gudeg manggar kini agak sulit ditemui. Meski begitu, masih ada beberapa tempat di Yogyakarta yang menyediakan gudeg jenis ini.

    Gudeg manggar justru kerap disajikan di resto-resto khusus atau di hotel-hotel berbintang. Sebab, konon jenis gudeg yang satu ini digemari oleh keluarga Keraton Yogyakarta.

    Sejarah

    Bicara soal gudeg, makanan yang satu ini punya sejarah panjang. Jenis makanan ini bahkan sudah ada, sebelum Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta berdiri. Konon, resep gudeg ditemukan pada masa Panembahan Senopati (1587-1601), pendiri Kesultanan Mataram Islam yang juga kakek Sultan Agung. 

    Saat hendak mendirikan Kesultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati harus membuka hutan belantara yang dikenal sebutan Alas Mentaok. Para prajurit dan kaum pekerja bersama-sama membabat hutan yang kelak bernama Yogyakarta ini. Ternyata, di hutan ini banyak terdapat pohon nangka dan pohon kelapa.

    Nangka muda dan kelapa itu, kemudian diolah untuk santapan bersama. Nangka muda dimasak dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah. Lalu, semua bahan di dalam kuali besar itu diaduk-aduk dengan menggunakan sendok besar mirip dayung. Maka dari itu, tercetuslah istilah han gudeg yang berarti “diaduk-aduk”. Jadi, makanan tersebut pada akhirnya dikenal dengan sebutan gudeg.


    Itulah sejarah dari kuliner khas Yogyakarta, gudeg! Gimana? Menarik, bukan? Ternyata dibalik rasa dan kepopulerannya, makanan ini juga punya kisah menarik untuk disimak. Yuk, baca sejarah kuliner lainnya di laman JadiLaper!

    Baca juga: Sejarah Rujak Cingur Khas Surabaya

  • Pho, Mie khas Vietnam dengan Kuah Kaldu Daging

    Pho, Mie khas Vietnam dengan Kuah Kaldu Daging

    Bagi para pecinta kuliner, tentunya sudah tidak asing lagi dengan makanan bernama Pho. Pho sendiri adalah makanan ikonik yang berasal dari Vietnam. Rasanya yang gurih dan menyegarkan menjadikan Pho makanan favorit bagi banyak orang. Hidangan Pho ini sudah mendunia dan menjadi salah satu kuliner yang paling dicari, ketika orang bersantap di restoran ala Vietnam. 

    Makanan ini terbuat dari bahan dasar bihun khas Vietnam yang disajikan bersama dengan kuah kaldu daging, irisan daging sapi tipis, bawang bombay, daun bawang, perasan jeruk nipis, dan cabai rawit yang sudah diiris. Selain terkenal akan cita rasanya yang nikmat, pho memiliki ciri khas tekstur daging yang sangat lembut dan empuk sehingga memberikan sensasi lumer dan meleleh di mulut.

    Baca juga: Tahu Gejrot Bang Jack Sajikan Sensasi Pedas yang Dahsyat

    Asal usul Mie Vietnam Pho

    Meski hidangan ini sangat populer di dunia, tetapi asal usul dari hidangan Pho ini tidak diketahui secara pasti dari mana. Sebab, ada yang mengatakan kalau Pho diadaptasi dari kuliner Perancis. Namun, ada juga yang mengatakan kalau Pho dibawa dari penduduk China yang berada di Vietnam. 

    Pho pertama kali muncul pada akhir abad ke-19 di daerah utara Vietnam, tepatnya saat  negara tersebut sedang dijajah oleh Perancis. Masa lalu inilah yang memunculkan asumsi, bila Pho mendapat adaptasi dari kuliner Perancis. 

    Makanan ini bisa dikatakan diadaptasi dari kuliner Perancis karena melihat dari penggunaan kata Pho, yang diambil dari kata feu. Artinya, dalam bahasa Perancis adalah api. Selain itu, Pho diperkirakan diadaptasi dari sup daging khas Perancis yang bernama ‘pot au feu’. Berhubung masyarakat Vietnam yang memiliki aksen Asia susah menyebut kata tersebut, maka muncul kata Pho. 

    Gabungan dua kultur kuliner yang berbeda

    Pho, Makanan khas Vietnam

    Pembuatan kaldu untuk Pho ini juga dipercaya merupakan hasil adaptasi dari kebudayaan kuliner Perancis. Awalnya, masyarakat Vietnam tidak banyak yang mengonsumsi daging. Sebab itu, mereka tidak paham cara membuat kaldu dari tulang sapi. 

    Dari kuliner Perancis, mereka kemudian belajar caranya membuat sup kaldu sapi. Sementara ‘mie’ yang digunakan pada Pho, diadaptasi dari mie khas China. Sebenarnya, mie pada Pho ini merupakan gabungan antara tekstur dan bentuk dari mie, kwetiau, dan bihun. Sebab, pada dasarnya mie Pho ini dibuat dari adonan tepung beras yang dibentuk seperti kwetiau.

    Di tahun 1920-an, pelaku bisnis kuliner asal Vietnam memadukan mie khas Vietnam ini dengan sup kaldu daging. Hingga akhirnya muncul Pho, seperti yang dikenal saat ini. Kemudian, Pho tercatat sebagai kuliner khas Vietnam pada tahun 1930-an.


    Begitulah asal usul singkat dari Pho yang kita kenal saat ini. Hidangan yang dipenuhi dengan sayur-sayuran, daging, mie dan kuah yang gurih. Untuk yang penasaran dengan rasa Pho, kalian bisa datang ke restoran Vietnam terdekat di kota masing-masing.

    Baca juga: Social Marketplace Kuliner Tokobay Resmi Hadir di Indonesia