Category: Info Kuliner

  • Sentuhan Kuliner Belanda pada Makanan Khas Indonesia

    Sentuhan Kuliner Belanda pada Makanan Khas Indonesia

    Sebagai sebuah negara yang menjadi pusat perdagangan rempah di masa lalu, Indonesia memiliki ragam makanan khas yang terpengaruh oleh kebudayaan Eropa. Pengaruh kuliner Eropa di Indonesia, diperkirakan dimulai sekitar abad ke-16. 

    Para pendatang dari Portugis, Spanyol, hingga Belanda dan Inggris, membawa serta budaya makan yang memperkaya cita rasa makanan Indonesia. Proses interaksi budaya yang berlangsung tidak sebentar ini juga menghasilkan berbagai jenis sayuran, buah, bumbu dan cara memasak baru di Indonesia. 

    Saat Belanda menjajah Indonesia, mereka meninggalkan banyak hasil akulturasi budaya kuliner, yang diadopsi dan dimodifikasi sesuai selera masyarakat pribumi. Mari kita bahas beberapa jenis kuliner Belanda yang kerap kita kenal sebagai makanan khas Indonesia!

    Baca juga: 7 Aneka Soto Nusantara, Hidangan Favorit Indonesia

    Soep (Sup)

    Ilustrasi sup ayam

    Saat orang Belanda tinggal Jawa yang beriklim tropis, mereka menikmati sup dingin yang disajikan dengan nasi. Sedangkan kaum bumiputera mengadopsi sup sebagai sajian sayur yang dimakan dengan nasi dan biasa dihidangkan untuk makanan sehari-hari.

    Smoor (Semur), Makanan Khas Indonesia

    Ilustrasi semur daging

    Makanan yang memiliki cita rasa lokal dan berbahan daging ayam atau sapi merupakan masakan Eropa yang diadopsi menjadi hidangan khas Indonesia. Semur disajikan dengan bahan utama ikan bandeng atau kakap dan diberi nama smoor Djawa. Namun saat ini, semur di Indonesia mengalami banyak penyesuaian versi dan variasi seperti semur daging ayam, semur daging sapi, semur telur, semur tahu, hingga semur jengkol.

    Biefstuk (Bistik)

    Biefstuk atau yang sering disebut dengan bistik adalah makanan orang Belanda yang disantap dengan kentang, kacang polong, dan wortel. Setelah diadopsi di Indonesia, bistik cenderung menjadi makanan yang mendampingi nasi. 

    Frikadel (Perkedel), Makanan Khas Indonesia

    Ilustrasi perkedel

    Selanjutnya, ada frikadel atau yang kita kenal sebagai perkedel adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar kentang kemudian dihaluskan, lalu digoreng. Perkedel juga dapat ditambahkan dengan bahan-bahan lain seperti daging cincang dan daun bawang. Perkedel juga merupakan makanan yang diadopsi Belanda dari Perancis bernama fricandeau.

    Selain makanan di atas, masih banyak kuliner yang mendapat pengaruh Eropa seperti tart, kue keju, kroket, panekuk, dan rolade.


    Jadi, itulah beberapa kuliner Eropa yang kini sudah diadopsi menjadi makanan Indonesia. Makanan mana yang menjadi favoritmu?

    Baca juga: 5 Kuliner Kaki Lima Indonesia, Terbaik di Dunia!

  • Kue Pancong, Jajanan Populer Khas Betawi

    Kue Pancong, Jajanan Populer Khas Betawi

    Siapa nih yang tak kenal dengan Kue Pancong? Kue yang dikenal sebagai makanan tradisional khas Betawi, sudah menjadi jajanan yang sangat populer di Indonesia. Terbuat dari adonan tepung beras ketan yang dicampur dengan kelapa parut dan gula merah cair, kue ini dibungkus dengan daun pisang dan dikukus hingga matang.

    Jajanan yang telah ada sejak tahun 90-an ini memiliki rasa yang manis dan gurih dengan teksturnya yang kenyal karena menggunakan tepung ketan. Saat ini, Kue Pancong kembali populer di dunia kuliner Indonesia dan dapat ditemukan di pasar tradisional atau di gerobak kaki lima di Jakarta.

    Tak hanya anak-anak dan remaja yang menyukai Kue Pancong, tapi juga berbagai kalangan masyarakat. Selain itu, kue lumer ini juga sudah banyak dijual di gerobak kaki lima di berbagai wilayah di Indonesia.

    Penyebutan Nama Kue Pancong di Setiap Daerah

    Setiap wilayah di Indonesia memiliki penamaan yang berbeda untuk camilan manis ini. Di Yogyakarta, makanan ini disebut Kue Serabi Rangin, di Bali dikenal sebagai Kue Haluman, dan di Bandung dikenal sebagai Kue Bandros.

    Jika dilihat dari sejarahnya, Kue ini memiliki nilai historis yang penting karena menjadi makanan khas selama masa penjajahan Belanda. Pada masa itu, kue ini sering dijual oleh pedagang keliling yang membawa gerobak yang disebut “Pacung”.

    Kue Pancong memiliki banyak variasi dalam bahan maupun cara penyajiannya. Ada Pacong Ketan Hitam yang dibuat dengan tepung ketan hitam dan Pacong Goreng yang digoreng setelah dikukus. Makanan ini dapat dinikmati sebagai camilan atau sebagai hidangan penutup setelah makan.

    Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kue tradisional ini juga sudah banyak dijual di kedai atau kafe. Makanan ini disajikan dengan berbagai kreasi unik sehingga memberikan pengalaman yang lebih dari sekedar rasa manis dan gurih.

    Para pedagang Kue Pancong mengkombinasikan jajanan khas Betawi ini dengan menambahkan beragam toping seperti coklat keju, coklat susu, lumer atau setengah matang, ayam goreng, hingga disajikan dengan warna-warni. Hal ini selalu berhasil menarik minat masyarakat untuk mencicipinya.


    Jadi, Kue Pancong mana yang menjadi favoritmu? Yuk, beri jawabanmu di kolom komentar!

  • Sejarah Kerupuk, Camilan Ringan Simbol Keprihatinan

    Sejarah Kerupuk, Camilan Ringan Simbol Keprihatinan

    Sebagai orang Indonesia, tentu kenal akrab dengan kerupuk! Camilan ringan yang konon paling populer di Indonesia ini, kerap menjadi pelengkap dalam setiap waktu makan. Rasanya yang gurih dan teksturnya yang renyah membuat kerupuk menjadi camilan favorit bagi segala umur.

    Sejarah kerupuk di Indonesia cukup panjang. Menurut beberapa prasasti, kerupuk sudah ada sejak abad ke-9 atau ke-10 di Pulau Jawa sebagai makanan pendamping hidangan untuk masyarakat. Di dalam Prasasti Batu Pura, disebutkan soal kerupuk rambak yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau. Hingga saat ini, kerupuk rambak masih menjadi salah satu bahan utama dalam kuliner krecek.

    Baca juga: Kisah Lomba Makan Kerupuk yang Ada Saat 17 Agustus

    Awal Mula Terciptanya Kerupuk

    Masyarakat di Jawa, memanfaatkan hasil komoditas berupa singkong yang jumlahnya banyak, dan membuat kerupuk aci. Kerupuk aci yang terbuat dari singkong ini menjadi salah satu bahan makanan yang membuat masyarakat Indonesia bertahan hidup di abad ke-19.

    Defisit pangan yang terjadi akibat perang dan tanam paksa, membuat rakyat terpaksa mengolah singkong menjadi berbagai makanan, termasuk kerupuk. Bagi masyarakat miskin, kerupuk menjadi lauk utama, karena harga daging yang sangat mahal. Tak heran, kerupuk menjadi simbol keprihatinan, bahkan hingga saat ini.

    Salah satu kerupuk yang paling dikenal di Indonesia adalah kerupuk uyel, atau kerupuk putih. Kerupuk kaleng ini memiliki bentuk bulat berulir, dibuat dari tapioka dan terigu dibumbui bawang putih, dan warna yang beragam, mulai putih, kuning, pink hingga hijau. Biasa dijajakan di warung, pasar, pedagang sayur hingga di warung nasi, kerupuk ini merupakan favorit masyarakat Indonesia. Setiap 17 Agustus, akan ada lomba khas berjudul “Makan Kerupuk” dengan kerupuk uyel sebagai pemeran utamanya!

    Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, kerupuk sudah menjadi pelengkap hidangan yang wajib ada dalam berbagai kuliner Nusantara. Kerupuk pun mulai menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari pesisir Kalimantan, Sumatera, hingga Semenanjung Melayu. Beberapa jenis kerupuk yang terkenal adalah kerupuk kemplang dari Palembang, kerupuk puli atau rengginang yang terbuat dari nasi, kerupuk udang, singkong, melinjo, mie, atau kerupuk karak gendar yang terbuat dari nasi sisa.

    Kerupuk khas setiap daerah juga cocok dijadikan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Saat ini, kerupuk menjadi salah satu makanan ringan yang populer di Indonesia dan hampir dapat ditemukan di setiap daerah, bahkan menjadi kebanggaan.


    Itulah sejarah kerupuk di Indonesia buat kamu yang belum tahu! Kerupuk apa nih, yang menjadi khas daerahmu? Yuk, bagikan pengalamanmu di kolom komentar!

    Baca juga: Resep Seblak Cobek Original ala Rafael yang Viral di TikTok!

  • Cara Memilih Udang yang Masih Segar, Jangan Salah Pilih!

    Cara Memilih Udang yang Masih Segar, Jangan Salah Pilih!

    Makanan laut, termasuk udang, telah menjadi favorit banyak orang di Indonesia. Namun, kualitas udang yang segar sangat penting untuk mendapatkan rasa yang enak dan meminimalkan risiko kesehatan. 

    Memastikan seberapa baiknya kualitas udang sangatlah penting untuk dilakukan. Udang yang tidak segar dapat memengaruhi rasanya, bahkan bisa membuatmu keracunan. Ciri-ciri dang segar memiliki cita rasa yang khas, tekstur yang renyah, dan baunya masih segar.

    Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, kali ini JadiLaper akan membagikan informasi terkait cara memilih udang yang masih segar. Agar tidak salah pilih, marik simak pembahasannya berikut ini!

    Baca juga: Resep Gyoza Ayam Udang, Lezatnya Bikin Ketagihan!

    Perhatikan penampilan udang

    Ketika memilih udang, pertama-tama perhatikan penampilannya. Pilihlah udang yang memiliki kulit yang kenyal dan tidak terkelupas. Hindari memilih udang yang kulitnya berwarna kecokelatan atau keabu-abuan, karena hal ini bisa menandakan bahwa udang sudah tidak segar lagi.

    Bau udang masih segar

    Udang yang segar seharusnya tidak memiliki bau yang menyengat. Ketika kamu mencium udang, pastikan aroma yang keluar masih segar seperti aroma air laut. Jika kamu mencium bau yang tidak sedap atau amis, itu bisa menjadi tanda bahwa udang sudah melewati masa segarnya.

    Tekstur udang tidak lembek

    Tekstur udang yang segar biasanya renyah dan kenyal. Saat dipegang, pastikan bahwa daging udang kenyal dan tidak lembek. Hindari memilih udang yang terasa lunak atau terlalu keras, karena itu bisa menjadi indikasi bahwa udang sudah tidak segar lagi.

    Warna dan kondisi kulit

    Udang yang segar memiliki warna yang cerah. Hindari memilih udang yang memiliki warna yang kusam atau pucat. Selain itu, perhatikan permukaan kulit udang. Udang segar seharusnya tidak memiliki goresan atau luka pada kulitnya.

    Selain memilih udang dengan benar, penting juga untuk memperhatikan sumber udang segar. Pastikan kamu membeli udang dari penjual yang terpercaya, seperti pasar ikan yang terkenal atau toko seafood yang memiliki reputasi baik. Jika memungkinkan, pilihlah udang segar yang baru ditangkap. Semakin segar udangnya, semakin baik kualitasnya.


    Itulah cara memilih udang yang masih segar. Sebelum memutuskan untuk membeli salah satu jenis seafood ini, perhatikan poin-poin di atas. Jadi, jangan sampai salah pilih udang, ya!

    Baca juga: Resep Udang Balado, Lauk Nikmat untuk Sepiring Nasi

  • Bubur Saren, Sajian Langka Khas Yogyakarta

    Bubur Saren, Sajian Langka Khas Yogyakarta

    Bubur saren atau yang juga dikenal sebagai bursaren adalah salah satu kuliner tempo dulu yang berasal dari Yogyakarta. Meski memiliki cita rasa yang sangat khas, sayangnya keberadaannya semakin langka dan sulit ditemukan di zaman sekarang.

    angan bubur ini terbuat dari bahan dasar tepung ketan dan gula merah dengan tambahan santan kelapa sebagai pelengkap. Tidak hanya itu, bubur saren juga memiliki rasa rempah yang khas berkat penggunaan jahe dan cengkeh sebagai bumbu tambahan. Selain itu, warna hitam pada hidangan ini berasal dari tepung omah atau tepung yang dibuat dari abu merang/batang padi.

    Ketika disajikan dalam bungkus daun pisang, ada sensasi rasa yang kompleks dan kaya, dengan gula Jawa sebagai pemanis alami yang memberikan rasa manis dan santan kelapa yang memberikan rasa gurih. Sementara rempah yang dipakai akan meninggalkan rasa pedas yang hangat di lidah.

    Baca juga: Resep Tinutuan, Bubur Khas Manado yang Pasti Enak

    Keberadaan Bubur Saren

    Sayangnya, keberadaan bubur saren semakin langka dan sulit ditemukan di masa sekarang. Hidangan tradisional ini hanya tersedia di beberapa tempat seperti Njeron Beteng, Pasar Pathuk, dan terkadang di pasar-pasar gede seperti Pasar Kotagede atau Pasar Godean di Yogyakarta.

    Di Solo, bubur saren dikenal dengan sebutan jenang saren dan biasanya dijual di Pasar Gede. Selain itu, jenang saren juga dapat ditemukan di Demak dan sekitarnya, namun memiliki perbedaan dalam cara pembuatan dan bahan-bahannya. Beberapa penjual jenang saren menggunakan abu dari klaras atau daun pisang kering sebagai bahan pembuatannya.

    Dawud Achroni, penulis buku Kuliner Tradisional Solo yang Mulai Langka, memasukkan jenang saren sebagai salah satu kuliner khas yang harus dilestarikan. Sayangnya, keberadaan bubur saren atau jenang saren kalah bersaing dengan kuliner kekinian yang lebih populer di kalangan masyarakat.

    Padahal, rasa khas hidangan ini sangat cocok disantap saat badan terasa kurang enak atau saat hawa sedang dingin. Selain itu, rempah-rempah yang terkandung di dalamnya juga memiliki manfaat baik bagi tubuh.


    Meski tidak memiliki peran penting dalam upacara ritual adat, keberadaan bubur saren yang semakin langka merupakan hal yang memprihatinkan bagi penikmat kuliner tradisional. Oleh karena itu, kita harus melestarikan keberadaan hidangan tradisional ini agar kuliner khas Yogyakarta dan Solo ini tetap terjaga keberlangsungannya.

    Baca juga: Tips Memasak Sagu Mutiara agar Tidak Hancur, Ayo Simak!

  • Ayam Pop, Hidangan Favorit di Rumah Makan Padang

    Ayam Pop, Hidangan Favorit di Rumah Makan Padang

    Ayam Pop merupakan salah satu hidangan favorit di rumah makan khas Padang, Sumatera Barat. Ayam goreng dengan warna putih pucat ini biasanya disajikan dengan daun singkong, kacang panjang rebus, dan sambal oranye yang membuat hidangan ini semakin lezat.

    Warna putih pucat dari hidangan ini dihasilkan dari bumbu yang direbus terlebih dahulu dengan air kelapa dan bawang putih cincang. Setelah itu, ayam digoreng dalam minyak panas hingga matang sempurna dan memiliki tekstur yang renyah.

    Meski terlihat mirip dengan kuliner olahan ayam di Jawa seperti ungkep ayam dan ayam rebus khas Tionghoa yaitu ayam Hainan, Ayam Pop memiliki keunikan tersendiri dalam cara pengolahannya.

    Baca juga: Resep Ayam Pop Khas Padang, Dijamin Gurih Bikin Nagih!

    Asal-usul Ayam Pop

    Asal-usul Ayam Pop sendiri masih menjadi misteri, namun beberapa sumber menyebutkan bahwa hidangan ini pertama kali dibuat di Restoran Famili Benteng Indah di Bukittinggi pada tahun 1963. Restoran ini memutuskan untuk merebus ayam terlebih dahulu sebelum digoreng sehingga mempercepat proses penggorengan.

    Dari sini, pemilik restoran kemudian menciptakan inovasi baru dengan menciptakan ayam goreng yang tetap memiliki warna putih seperti dikukus. Hal ini membuat banyak orang tertarik untuk mencoba hidangan di Restoran Famili Benteng Indah.

    Tak hanya itu, hidangan ayam khas Padang ini juga berhasil dipopulerkan oleh Simpang Raya, restoran terkenal di Sumatera Barat, pada tahun 1976. Bahkan, beberapa cabang Simpang Raya di luar Sumatera Barat menambahkan slogan “Istana Ayam Pop” dan menjadikannya sebagai hidangan utama di restoran tersebut.

    Nama Ayam Pop sendiri diduga berasal dari genre musik pop yang sedang populer pada masa itu dan sering diputar di restoran, sehingga nama ini menjadi populer hingga kini.

    Meskipun terdapat beberapa versi mengenai asal-usulnya, hidangan ini tetap menjadi favorit di mayoritas rumah makan Padang dan restoran masakan Minang. Bahkan, hidangan ini sudah mulai dikenal secara nasional dan banyak restoran masakan Minang di luar Sumatera Barat yang menyajikan hidangan ini di menu mereka.


    Jadi, jika kamu penasaran dan ingin mencoba hidangan legendaris ini, kamu dapat mengunjungi restoran atau rumah makan Padang terdekat di daerahmu!

    Baca juga: 5 Lauk Nasi Padang Nikmat yang Tak Boleh Dilewatkan!

  • Serbu Diskon 15% di Eksplorasi Kuliner Soto & Sop Tokobay!

    Serbu Diskon 15% di Eksplorasi Kuliner Soto & Sop Tokobay!

    Siapa yang comfort food-nya soto atau sop? Nah, kamu pasti senang dengan kabar ini! Tokobay kembali menggelar event Eksplorasi Kuliner Nusantara yaitu Soto & Sop Series. Pengguna bisa menikmati diskon 15% jika membeli soto & sop dari merchant official.

    Tentunya, promo ini melengkapi serangkaian Eksplorasi Kuliner Nusantara sebelumnya, yaitu bakmi dan bevereges series. Mengingat tersedia sejumlah merchant kuliner yang menjual soto & sop, Tokobay ingin mengajak penggunanya untuk nikmati kuliner Indonesia terdekat yang dijual para UMKM.

    Dengan diadakannya promo ini, baik pengguna maupun UMKM yang tergabung sebagai merchant official Tokobay sama-sama mendapatkan untuk. Dengan potongan harga 15%, pengguna bisa menyantap soto & sop lezat dengan harga yang lebih miring.

    Sementara itu, para merchant official pun terbantu untuk meningkatkan penjualannya dengan digelarnya promo ini. Selain itu, kampanye dari Tokobay ini pun turut membantu UMKM untuk memperkenalkan namanya di tengah masyarakat.

    Baca juga: 7 Aneka Soto Nusantara, Hidangan Favorit Indonesia

    Syarat & Ketentuan Promo Eksplorasi Kuliner Soto & Sop

    Beralih lagi ke promo Eksplorasi Kuliner Nusantara Soto & Sop Series, ada syarat dan ketentuan yang berlaku untuk bisa menikmati diskon ini. Dilansir dari laman resminya, berikut syarat dan ketentuan promo:

    1. Diskon 15% hanya berlaku untuk pemesanan di official merchant Soto dan Sop
    2. Minimal belanja Rp 50.000
    3. Voucher berlaku dari tanggal 12 – 21 Juni 2023
    4. Promo berlaku selama persediaan masih ada

    Diskon dari Tokobay ini menjadi kabar gembira bagi pemburu promo. Apalagi, pengguna bisa mendapatkan makanan dengan harga yang sama dengan di resto. 

    Kapan lagi kamu bisa pesan makanan online dengan harga yang sama sekaligus dapat diskon? Dengan demikian, pengguna bisa dapatkan untung bertubi-tubi.

    Adapun fitur Self Pick-up yang bisa pengguna gunakan untuk memesan makanan secara online dengan gratis ongkir. Fitur ini memungkinkan penggunanya untuk terhindar dari antre karena mereka bisa mengambil pesanannya sendiri ke restoran setelah makanan selesai dibuat.


    Nah, bagi kamu yang juga tertarik dengan diskon 15% dari Eksplorasi Kuliner Nusantara di Tokobay, buruan serbu segera karena kuota terbartas. Jangan lupa untuk dowload aplikasinya terlebih dahulu di App Store dan Play Store, ya!

    Baca juga: Wajib Coba! Ini 4 Soto Betawi di Jakarta yang Bikin Ngiler

  • 5 Tempat Wisata Kuliner Legendaris di Bandung

    5 Tempat Wisata Kuliner Legendaris di Bandung

    Bandung merupakan salah satu destinasi wisata yang paling diminati. Kota yang terletak di Jawa Barat ini memiliki keindahan alam dengan udaranya yang sejuk, dan berbagai tempat menarik untuk dikunjungi. Tidak heran jika pada akhir pekan, Bandung selalu dipadati kendaraan dari luar kota. Sebagai destinasi wisata terbesar di Jawa Barat, Bandung memiliki banyak kuliner lezat yang tidak kalah dengan kota-kota lainnya.

    Bagi kamu yang ingin berkunjung ke Kota Kembang, pastikan kamu mencicipi beragam wisata kuliner kaki lima legendaris yang siap memanjakan lidahmu. Biasanya, sekali mencicipi, kamu pasti ketagihan dan ingin kembali ke Bandung lagi. Berikut ini 5 kuliner kaki lima legendaris di Bandung yang wajib masuk ke dalam daftar kunjunganmu!

    Baca juga: Pecinta Pedas? Intip 4 Kuliner Pedas Khas Bandung Ini!

    Ceu Mar Bandung

    Jika kamu bingung ingin makan malam di Bandung, kamu dapat mengunjungi warung Ceu Mar yang terletak di dekat Jalan Braga. Warung Ceu Mar sudah berdiri sejak tahun 1974. Warung ini menyajikan hidangan nasi berkat khas Sunda yang terdiri dari tempe goreng, tahu goreng, telur goreng pedas, teri asin, ayam panggang, gulai daging, dan masih banyak lagi. Tidak hanya pendatang dari luar kota yang mengunjungi Warung Ceu Mar, tetapi juga warga lokal Bandung yang sering datang untuk makan malam di sana.

    Nasi Bistik Astana Anyar

    Meskipun namanya bistik, Nasi Bistik Astana Anyar di Bandung tidak menggunakan daging sapi, tetapi menggunakan daging ayam. Nasi Bistik Astana Anyar terletak di Jalan Astana Anyar, Bandung dan buka dari pukul 18:00 WIB hingga tengah malam. Menu yang paling populer di sini adalah nasi goreng bistik yang disajikan dengan potongan bistik ayam, sayuran rebus, dan kentang goreng. Selain itu, ada juga hidangan yang tak kalah lezatnya yaitu nasi jamur dan capcay.

    Bubur Ayam Gibbas

    Jika kamu ingin sarapan enak di Bandung, kamu dapat mencoba Bubur Ayam Gibbas yang terletak di Jalan Kebon Jati. Bubur ayam yang disajikan di sini memiliki porsi yang besar dan harganya sangat terjangkau. Bubur Ayam Gibbas disajikan dengan ayam suwir yang melimpah dan dilengkapi dengan berbagai topping seperti kerupuk, telur, sate ati ayam, dan ampela. Rasanya sangat cocok untuk dinikmati saat masih hangat!

    Cuankie Serayu Bandung

    Kalau kamu ingin makan bakso di Bandung, kamu bisa mencoba Cuankie Serayu. Cuankie di sini juga menyediakan batagor dengan tekstur krispi yang dilengkapi dengan kuah kacang gurih yang enak. Biasanya, orang membeli batagor dengan kuah cuankie. Tempatnya yang berada di pusat kota, membuatnya mudah dikunjungi. Tak heran, Cuankie Serayu selalu padat di akhir pekan.

    Cireng Cipaganti

    Gorengan wajib untuk wisatawan yang datang ke Bandung! Terbuat dari tepung tapioka dan kanji, digoreng dan dicampurkan saus bumbu kacang kaya rasa, cireng terkenal satu ini berada di Jalan Cipaganti, Bandung. Dengan rasa gurih dan tekstur kenyal, cireng nikmat disantap saat masih panas. Harganya pun sangat terjangkau, membuatnya jadi favorit!


    Buat kamu yang berencana jalan-jalan ke Bandung atau sedang berada di Bandung, jangan sampai terlewat untuk mencicipi kulineran ini yaa!

    Baca juga: Lumpia Basah Bandung, Kuliner Jawa Barat yang Ngeunah!

  • 5 Kuliner Tradisional Berbahan Pisang yang Enak dan Lezat

    5 Kuliner Tradisional Berbahan Pisang yang Enak dan Lezat

    Sebagai buah yang paling banyak dikonsumsi, pisang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Seperti, mengendalikan kadar gula darah, memperlancar saluran pencernaan, baik untuk kesehatan otak, menambah energi, dan mengandung antioksidan yang efektif menjaga sistem kekebalan tubuh. Oleh sebab itu, pisang menjadi buah yang sangat primadona bagi banyak orang.

    Tidak hanya dimakan langsung, pisang juga kerap digunakan sebagai olahan makanan, baik sebagai bahan utama atau pun sebagai bahan pendamping.

    Salah satu kuliner tradisional berbahan pisang yang populer adalah pisang goreng. Bahkan, pisang goreng pernah menjadi makanan yang menempati predikat pertama sebagai Best Deep Fried Dessert in The World atau hidangan penutup terbaik di dunia versi Taste Atlas.

    Tapi, tahukah kamu kalau selain pisang goreng, Indonesia juga memiliki berbagai kuliner tradisional yang dibuat dari bahan dasar pisang dan ngga kalah lezat, lho!

    Pisang Epe

    Makanan tradisional asal Makassar ini menjadi jajanan favorit yang dibuat dari pisang raja yang belum terlalu matang dan tidak lembek. Cara memasaknya, pisang ditekan hingga agak penyet, selanjutnya dipanggang di atas bara api.

    Setelah matang, pisang disajikan bersama saus gula aren. Namun, kini pisang epe dapat disajikan dengan berbagai toping seperti coklat, keju, hingga durian.

    Cekodok

    Cekodok adalah makan tradisional berbahan pisang dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Makanan ini memiliki bentuk yang bulat seperti bola ubi. Cekodok dibuat dengan mencampurkan pisang dan tepung terigu. Kemudian, adonan tersbut dibentuk bulat dan digoreng sampai kuning kecoklatan.

    Pisang Molen

    Molen sudah sejak lama menjadi makanan favorit di Jawa Barat. Makanan asal kota Bandung ini merupakan pisang yang dibungkus oleh adonan tepung terigu. Setelah terbungkus rapi, molen digoreng dalam minyak panas sampai kuning kecoklatan. Pisang molen sangat mudah ditemui, biasanya tukang gorengan di pinggir jalan tidak jarang menyediakan pisang molen sebagai salah satu variannya.

    Nagasari

    Masih berasal dari Pulau Jawa, nagasari merupakan makanan tradisional yang terbuat dari tepung beras, tepung sagu, santan, dan gula, lalu diisi pisang. Makanan ini biasanya dibalut dengan daun pisang lalu dikukus. Nagasari juga sering dikukus dengan balutan daun pandan sehingga menimbulkan aroma yang khas.

    Pisang Plenet

    Makanan tradisional ini sering ditemukan di daerah Semarang. Pisang planet biasanya dijual menggunakan gerobak di pinggir jalan.

    Pisang planet sangat mirip dengan roti maryam. Namun bedanya, makanan ini menggunakan pisang sebagai bahan utamanya. Pisang plenet dibuat dengan cara mempipihkan pisang kemudian dibakar. Setelah matang, pisang bentuknya akan seperti roti maryam lalu disajikan dengan aneka toping seperti keju, cokelat, dan lain-lain.


    Itulah 5 kuliner tradisional berbahan pisang yang tidak kalah enaknya dari pisang goreng. Tertarik mencobanya?

  • 7 Kue Basah Nusantara, Jajanan Pasar yang Legendaris

    7 Kue Basah Nusantara, Jajanan Pasar yang Legendaris

    Kue basah adalah salah satu jenis jajanan pasar yang memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. Dengan beragam variasi rasa dan tekstur yang lezat, kue basah menjadi hidangan yang selalu ditunggu-tunggu, baik untuk santapan sehari-hari maupun saat acara spesial. 

    Di Nusantara, terdapat banyak kue basah yang memiliki sejarah panjang dan menjadi kue legendaris di Indonesia. Berikut JadiLaper bagikan 10 macam kue basah Nusantara yang sangat populer. Intip daftarnya di bawah, yuk!

    Baca juga: Kue Pancong, Jajanan Populer Khas Betawi

    Kue Lapis

    Kue Lapis adalah kue basah yang terkenal dengan lapisan-lapisan yang cantik dan warna yang berbeda. Terbuat dari bahan dasar tepung beras, santan, gula, dan pewarna alami, kue lapis memiliki tekstur yang lembut dan manis. Kue lapis tersedia dalam berbagai varian seperti kue lapis legit, kue lapis surabaya, dan kue lapis pandan. Rasanya yang enak dan penampilannya yang cantik membuat kue lapis menjadi favorit di acara-acara spesial.

    Klepon

    Klepon terbuat dari ketan yang diisi dengan gula merah dan dibalut dengan parutan kelapa. Kue basah yang satu ini memiliki cita rasa manis dari gula merah yang meleleh di dalamnya dan sensasi kenyal dari ketan. Kue ini biasanya berwarna hijau karena menggunakan pewarna alami dari daun pandan. Klepon merupakan jajanan pasar yang sangat populer di Indonesia dan menjadi camilan favorit kapan pun dan di mana pun.  

    Kue Lumpur

    Selanjutnya, ada kue lumpur yang memiliki tekstur lembut dan rasa manis. Terbuat dari campuran tepung terigu, santan, gula, dan telur, kue lumpur biasanya dipanggang dalam loyang kecil. Kue ini memiliki lapisan atas yang lembut dan lezat. Biasanya disajikan dalam cup kecil dan dapat dinikmati dengan sendok kecil. Kue lumpur merupakan hidangan yang populer di pagi atau sore hari.

    Putu Mayang

    Putu Mayang adalah kue basah yang terbuat dari campuran tepung beras dan air kelapa yang dibentuk seperti mie. Kue ini dimasak dengan cara direbus dan disajikan dengan kuah santan gula merah yang kental. Putu Mayang memiliki tekstur yang kenyal dan rasa manis yang khas. Kue ini sering ditemui di pasar tradisional dan menjadi hidangan yang sangat disukai oleh masyarakat.

    Kue Lupis

    Siapa di antara kalian yang suka dengan kue lupis? Lupis adalah kue basah yang terbuat dari ketan yang dimasak dalam bambu atau daun pisang. Kue lupis biasanya dilapisi dengan parutan kelapa dan disiram dengan gula merah cair. Kue ini memiliki tekstur kenyal dan rasa manis yang nikmat. Lupis sering dijumpai di pasar tradisional dan menjadi camilan favorit di Indonesia.

    Wingko Babat

    Wingko Babat adalah kue basah yang berasal dari Jawa Tengah. Kue ini terbuat dari kelapa parut yang dicampur dengan gula merah dan beras ketan yang digiling halus. Wingko Babat kemudian dipanggang hingga matang dan memiliki tekstur yang kenyal. Kue ini memiliki rasa kelapa yang khas dan sering dijadikan oleh-oleh khas dari daerah Jawa Tengah.

    Cenil

    Cenil terbuat dari tepung ketan yang dibentuk seperti bola kecil dan direbus. Setelah matang, cenil dilapisi dengan parutan kelapa atau taburan kelapa parut manis. Kue cenil memiliki tekstur kenyal dan rasa manis yang lezat. Kue ini sering dijumpai di pasar tradisional dan menjadi camilan favorit di berbagai daerah di Indonesia.


    Itulah 7 macam kue basah Nusantara yang legendaris dan menjadi favorit di Indonesia. Kelezatan dan keunikan setiap kue mencerminkan kekayaan kuliner Indonesia yang beragam. Di antara deretan kue di atas, manakah yang jadi favoritmu? Yuk, komentar di bawah!

    Baca juga: Resep Kue Kering Lebaran yang Cocok Buat Hampers!