Harga Makanan di Ojol Malah Lebih Mahal, Kok Bisa?

Ilustrasi harga makanan di ojol. (Sumber: Unsplash)

Daftar Isi

Pasti tak sedikit orang heran dengan harga makanan di ojol yang malah lebih mahal daripada harga asli di restorannya. Padahal, seharusnya aplikasi pesan-antar makanan online menawarkan layanan yang bisa diandalkan sebagai solusi permasalahan yang ada di masyarakat.

Harga makanan yang tinggi semakin membuat masyarakat harus berpikir dua kali untuk pesan makanan lewat aplikasi tersebut. Pada akhirnya, membeli makanan langsung di restoran adalah pilihan terbaik karena harga aslinya jauh lebih murah.

Walaupun banyak promo bertebaran, akan tetapi tak semua orang dapat memenuhi syarat minimal pembelian tertentu. Misalnya saja, pengguna harus pesan makanan dengan minimal total pembelian Rp50.000. Belum lagi, promo hanya berlaku untuk beberapa restoran saja. 

Ini membuat pengguna yang hanya ingin pesan makanan dengan harga di bawah nominal tersebut tidak bisa menikmati promonya. Selain itu, pengguna merasa dibatasi karena tak bisa pesan makanan di restoran pilihannya dengan harga miring. Sangat disayangkan, bukan?

Memangnya, apakah faktor yang membuat harga makanan di ojol lebih mahal daripada di restoran?

Baca juga: Tips Pesan Makan di GoFood, Cuan Pakai Fitur Mode Hemat

Tingginya Biaya Komisi

Mungkin para pemilik restoran tertarik untuk bergabung menjadi mitra kuliner di aplikasi pesan-antar makanan agar menarik banyak konsumen. Namun, para pelaku UKM menjadi rendah diri untuk daftarkan usahanya di aplikasi tersebut.

Pasalnya, para mitra kuliner akan dikenakan biaya komisi sebesar 20%. Biaya ini merupakan uang bagi hasil mitra kuliner kepada pihak aplikasi karena telah membantu meningkatkan penjualannya. Dari situlah perusahaan pengembang aplikasi akan mendapatkan profit.

Biaya 20% yang dikenakan tersebut bukanlah komisi yang wajib dibayarkan setiap bulan. Namun, ternyata itu adalah potongan dari harga jual setiap menu makanan yang ada di restoran. 

Misalnya, sebuah restoran menjual nasi ayam geprek dengan harga Rp12.000. Maka, pemilik restoran harus membayar 20% ke pihak aplikasi yaitu sebesar Rp2.400. Hal ini membuat pelaku UKM kuliner kelimpungan karena mereka hanya bisa mendapatkan untung yang tak seberapa.

Strategi Pemasangan Harga Makanan di Aplikasi Ojol

Maka dari itu, mitra kuliner yang sudah bergabung memutar otak mereka agar tetap mendapatkan untung yang sepadan. Agar tidak terbebani lagi dengan perhitungan bagi hasil, pemilik restoran akhirnya menaikkan harga makanannya di aplikasi sebesar 20-30%.

Oleh karena itu, pengguna selalu mendapati harga makanan di aplikasi pesan-antar makanan jauh lebih mahal dibanding harga asli di restorannya. Harga nasi ayam geprek yang tadinya dibanderol Rp12.000 saja, akhirnya naik menjadi Rp15.000.

Inilah hal yang banyak pengguna tidak tahu betapa menggilanya beban biaya komisi mitra kuliner di aplikasi pesan-antar makanan. Jadi, tak perlu terlalu kaget kalau harga makanan di aplikasi jauh berbeda daripada harga aslinya.


Setelah mengetahui faktor yang membuat harga makanan di ojol lebih mahal daripada di restoran, mungkin masyarakat dapat memaklumi mengapa hal tersebut terjadi. Namun, apakah mereka tetap setia menjadi pengguna aplikasi tersebut atau malah berpaling?

Jika mencari layanan pesan-antar makanan yang solutif untuk masyarakat, cobalah aplikasi Tokobay! Jangan lagi resah tentang harga makanan di aplikasi yang jauh lebih mahal dari harga aslinya.

Tokobay memberimu ruang untuk pesan makanan dengan harga yang sama seperti di restoran. Kamu bisa bebas pilih restoran terfavorit untuk dapatkan makanan terenak versi kamu!

Ingin tahu Tokobay lebih lanjut? Kunjungi websitenya dan unduh aplikasinya kemudian!

Punya pengalaman menarik saat pesan makanan lewat aplikasi ojol juga? Yuk, bagikan ceritamu di kolom komentar!

Baca juga: Bisa Pesan Online, Cobain Mie Ayam Jakarta Selatan Ini Yuk!

Share this post

Facebook
Twitter
WhatsApp